Otonan Mebayuh

nunas tirta

Saya merayakan hari lahir dalam agama Hindu, biasa disebut Odalan atau Otonan. Otonan ini dirayakan setiap 6 bulan sekali, menurut tahun Caka, atau dalam 210 hari sekali. Kali ini saya di’oton’ secara mebayuh, kalau tidak salah. Hhe. Mebayuh ini hanya dilakukan sekali seumur hidup, dilakukan selagi masih muda. Mebayuh bertujuan untuk mengurangi hal-hal buruk dalam hidup kita, membayar hutang di masa lalu, dan tentunya memohon keselamatan.

Sebelum hari otonan, hari dimana saya akan dibayuhkan, hari otonan saya ‘dibaca’ terlebih dahulu oleh Ida Bagus Aji (entah siapa namanya, maaf). Dari eka wara hingga dasa wara, wuku, urip, dan semua-semuanya. Dari sanalah sifat-sifat bawaan hari lahir saya disebutkan. Yang pertama kali saya dengar, bahkan hampir di setiap wara, saya disebutkan memiliki watak yang keras. Ibu saya yang waktu itu ikut tentu saja langsung meng’iya’kan. Karena saya pun merasa, watak saya memang sangat keras. Keras kemauan jika punya niat, keras bicara, keras kepala, keras segalanya. Inilah yang harus dikurangi dengan mebayuh.

Selain keras, saya juga disebut boros. Benar. Jika saya sudah memegang yang namanya uang, yang merupakan milik sendiri, saya pasti cepat menghabiskannya. Tapi tidak untuk hal negatif. Saya memang kere. Jadi kalau ada uang, saya akan membagi-baginya dalam kelompok-kelompok. Sekian rupiah untuk ini, sekian untuk itu, dan lain-lain. Saya merencanakannya dengan rapi, tetapi habis. Saya sulit menabung.

Saya merupakan orang yang romantis atau seorang penikmat seni, kata Ida Bagus. Tapi, pacar saya mengatakan bahwa saya romantis dan penikmat seni. Keduanya adalah diri saya. Romantis, entahlah, orang lain yang bisa menilai saya. Penikmat seni, tentu saja. Saya senang menonton acara-acara kesenian Bali, atau apapun yang menarik. Saya juga pernah mengikuti seni itu sendiri. Mekidung, sloka, palawakya, menari (dulu). Namun saya lebih sering menjadi penilai di bangku penonton.

Saya disebut memiliki kata-kata yang tajam, ini ada hubungannya dengan lahir pada hari Senin Kliwon. Kata-kata yang tajam maksudnya adalah.. Ketika saya mengatakan sesuatu kejadian secara tidak sengaja, maka hal yang saya katakan kemungkinan akan menjadi kenyataan. Misalnya, saya mengatakan “awas jangan lewat jalan ke barat, nanti jatuh”, maka mungkin saja orang yang saya beritahu akan mengalami sesuatu jika tetap melanggar apa yang saya larang. Itu sih katanya. Saya memang pernah punya pengalaman bicara seperti itu. Tapi saya tidak menyangka itu bukan sebuah kebetulan.

Masih banyak hal tentang saya. Tidak tetap pendirian, pintar merayu, pintar bicara, punya jiwa pemimpin, banyak yang percaya pada saya, saya bisa melihatdan merasakan hal yang tidak terlihat oleh orang lain, saya mempunyai firasat yang tepat, dan hal-hal lain yang kecil-kecil.

Setelah dibacakan otonan saya, maka dapat ditentukan bebantenan apa yang akan dibuatkan untuk otonan saya. Saya wajib menggunakan pakaian adat serba hitam di saat saya otonan. Warna pakaian tergantung hari kelahirannya. Kalau dulu ibu saya memakai serba putih, saudara saya ada yang memakai serba hijau dan serba merah. Setiap orang berbeda.

kukuruyuuuk

 

Pada hari otonan, saya dioton oleh Ida Pedanda Istri. Setelah beberapa tahap upakara, kemudian ada ritual saya masuk ke dalam sangkar ayam yang dikelilingi benang dan lilin. Di dalam sangkar, saya disiram air (tirta) sebanyak 95 payuk tanah (sekitar 95 gelas). Saat saya disiram itu, saat hari mulai gelap, saat sandikala. Saya yang berbaju hitam seperti seorang dukun jahat yang dihukum oleh masyarakat di malam hari. Hhehehe, itu tidak benar. Yang benar, saya sedang dilukat, yang artinya saya sedang dibersihkan sebelum saya meoton. Anda bisa bayangkan dinginnya saat itu, sekujur tubuh harus terkena tirta.

melukat dalam sangkar

 

basah kuyup

 

Setelah melukat, saya meseh atau berganti pakaian ada seperti biasa. Tiba-tiba mati listrik di sana. Banyak saudara yang mengatakan kematian listrik itu karena saya, ada-ada saja. Hhe. Saya melanjutkan tahap upakara berikutnya. Ada upakara yang mengharuskan kening saya dicium bebek dan ayam hidup, ada yang menempelkan daun berisi obat yang diletakkan di leher saya, karena saya sering batuk dalam jangka waktu yang lama, itulah yang digunakan sebagai ‘obat’. Bermacam-macam upakara hingga malam, hingga akhirnya mengharuskan saya makan satu ekor ayam yang telah digoreng, tidak dapat saya habiskan. Hhe. Dan terakhir, acara makan-makan dengan keluarga dan saudara-saudara.

Otonan ini mempunyai banyak makna, seperti yang telah saya sebutkan sebelumnya. Otonan akan mendatangkan efek positif yang dipercaya oleh umat Hindu, menghilangkan dampak negatif, membayar hutang di masa lalu, di kehidupan yang lalu, memohon keselamatan, dan tidak lupa mengucap syukur pada Tuhan karena masih diberikan kesempatan untuk hidup dan memperbaiki kehidupan.

meoton

 

Terima kasih Tuhan.  Terima kasih untuk orang tua saya, ajik eme, keluarga saya, kedua kakak dan kakak ipar, ketiga ponakan saya, dan saudara-saudara yang telah mendukung otonan saya. Terima kasih sesari yang saya dapat dari keluarga dan saudara-saudara semua, hhe. Terima kasih untuk ibu dari pacar saya atas kamennya. Terima kasih untuk pacar saya, atas semuanya. Terima kasih Tuhan..

*** mari makan be gulingnya :D ***

About these ads

4 thoughts on “Otonan Mebayuh

  1. barusan habis ngobrol tentang otonan habis saya gak pernah tau otonan jatuhnya kapan ada teman ngasi tau cari di internet ya iseng iseng cari tau karang udah tau cuman dipikir udah tua baru buat otonan kayaknya lucuu kayak ABG,mungkin waktu kecil udah pastinya,dan perlu kurungan ayam kusus biar cukup.
    untuk Mirah good luck.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s